Arti Dari Warna Helm Safety Proyek Yang Harus Kamu Tahu

Indonesia sebagai negara berkembang saat ini sedang memasuki era pembangunan infrastruktur dengan tujuan mensejahterakan kehidupan bagi rakyatnya. Bagi para masyarakat tentu sering kali mengamati para pekerja kontruksi yang dimana mereka menggunakan helm safety disaat bekerja. Setiap pekerja kontruksi maupun untuk tamu yang hanya sekadar berkunjung diharuskan untuk menggunakan helm safety tersebut.

Memang pada kenyataannya hal ini belum diterapkan oleh seluruh kontraktor atau pemborong khususnya mereka yang kurang peduli, namun menggunakan helm safety di lokasi proyek itu sesungguhnya adalah wajib sesuai dengan UU ketenaga kerjaan di Indonesia karena ini terkait dengan keselamatan hidup seseorang seperti halnya keharusan menggunakan helm safety pada saat mengendarai kendaraan bermotor.

Simak Juga: Kacamata Safety

Tujuan utama diterapkannya helm safety atau sering kali disebut helm proyek adalah untuk melindungi jatuhan material dari atas disaat para pekerja bekerja. Tentu akan sangat membahayakan seandainya disaat sedang bekerja tiba-tiba karena tertiup angin atau mungkin karena pekerja yang bekerja dibagian atas secara tidak sengaja menjatuhkan peralatan yang digunakan mereka seperti mur baut tang dan sebagainya. Bisa langsung mengenai kepala yang tidak terlindungi.

Rupanya warna helm ini juga memiliki artinya yang menggambarkan posisi atau peranan orang tersebut dalam proyek tersebut. Jadi tidak hanya asal-asalan dalam memilih warna helm proyek disaat berada di lokasi proyek sesuai keinginan pemakai. Ada peraturan mengenai kode warna helm proyek tapi peraturan ini tidak berlaku secara umum di seluruh negara atau perusahaan. Adapun arti dari beberapa warna Helm Proyek sebagai berikut:

  1. Helm Putih
    Orang-orang yang menggunakan helm safety dengan warna putih mereka umumnya adalah para manajer proyek, pengawas pada proyek tersebut, para insinyur dan juga mandor. Ini kasta tertinggi dalam suatu proyek. Mereka yang bertanggung jawab atas segala sesuatu mengenai pengerjaan proyek tersebut.
  2. Helm Kuning
    Helm yang paling banyak pemakainya ini seandainya kalian berada di suatu proyek umumnya digunakan oleh pekerja umum atau buruh, warna ini tergolong cukup mencolok. Dengan warna yang mencolok mereka akan lebih mudah terlihat jika ada kendaraan yang lewat di area proyek. Sehingga diharapkan resiko kecelakaan dapat diminimalisir.
  3. Helm Biru
    Helm dengan warna biru ini umumnya dipakai oleh site supersivor, elektrikal contraktor, pengawas sementara, tapi kenyataannya di lapangan helm ini lebih sering kali dipakai oleh operator alat-alat berat seperti forklift, bulldozer, crane.
  4. Helm Hijau
    Beberapa pekerja proyek mungkin ada sebagian orang yang sedang membersihkan sampah-sampah di zona proyek, untuk itu mereka menggunakan helm berwana hijau yang umumnya dipakai untuk petugas cleaning dan lingkungan. Alasan menggunakan helm warna ini mungkin sesuai slogan mereka yaitu “Go Green”
  5. Helm Pink
    Untuk warna pink, ini umumnya digunakan para pekerja baru atau untuk anak-anak magang.
  6. Helm Orange
    Untuk para tamu perusahaan atau tamu dari luar yang datang meninjau lokasi proyek umumnya mereka diberikan helm safety yang berwarna oranye
  7. Helm Merah
    Helm yang dapat dibilang paling sedikit tapi perannya sungguh besar untuk pekerjaan proyek. Helm safety ini digunakan oleh petugas Safety yang bertugas untuk menjaga kesehatan dan keselamatan kerja bagi seluruh pekerja yang ada di proyek tersebut.

Mengingat tingginya angka kecelakaan kerja proyek akibat kurangnya kesadaran mengenai keselamatan kesehatan kerja di ruang lingkup proyek di negara ini. Maka dari itu kita harus senantiasa menanamkan budaya disiplin terhadap kesehatan keselamatan kerja (K3) disaat sedang melakukan pekerjaan sehari-hari.

Baca Juga: Alat Keselamatan Kerja

Pengetahuan Seputar Kurikulum Cambridge

Kurikulum Cambridge awalnya berasal dari Inggris, dikembangkan oleh University of Cambridge untuk mengakomodir siswa internasional. Kurikulum Cambridge dibagi menjadi 4 tingkatan, yaitu:

1. Cambridge International Primary Program (CIPP): Tahapan primary atau berimbang dengan tingkatan SD selama 6 tahun. Usia 5 – 11 tahun.
Mempelajari bidang akademis bahasa Inggris, matematika, dan sains melewati jenjang-jenjang yang dibentuk menurut kemampuan dasar anak pada saat itu.

2. Lower Secondary Program atau Cambridge Secondary 1 (setara dengan kelas VII dan VIII) selama 2 tahun. Usia 11 – 14 tahun.
Meneruskan bidang pelajaran dari pembelajaran dasar (bahasa Inggris, matematika, dan sains), dan ditambah dengan persiapan anak untuk mencapai IGCSE atau O Tahapan.

Kunjungi Juga: International School Jakarta

3. Middle Secondary atau Cambridge Secondary 2: IGCSE atau Cambridge ‘O’ Tahapan (setara dengan kelas IX dan X) selama 2 tahun. Usia 14 – 16 tahun.
Tahap ini familiar dengan kurikulum International General Certificate of Secondary Education (IGCSE) atau O jenjang. Siswa yang hendak melanjutkan pengajaran ke tingkat lebih tinggi semestinya melewati ujian IGCSE atau O jenjang. Kualifikasi O jenjang khususnya dirancang untuk peserta didik yang bahasa utamanya adalah bahasa Inggris. Siswa bisa memilih mata pembelajaran yang diminati dalam persiapan menuju A jenjang serta membekali kemampuan untuk bekerja nantinya.

4. Upper Secondary atau Cambridge Advanced: Cambridge International “AS” Tahapan dan “A” Jenjang, atau Cambridge Pre-University yang setara dengan kelas XI dan XII. Jenjang ini diperuntukkan bagi peserta ajar berusia 16 sampai 19 tahun.
Cambridge International Advanced Subsidiary Jenjang (“AS” Jenjang) adalah program studi yang umumnya berlangsung selama 1 tahun.
Sedangkan Cambridge International Advanced Tahapan (“A” Jenjang) umumnyanya berlangsung 2 tahun.
Kualifikasi Internasional A Jenjang, dibutuhkan untuk melanjutkan pengajaran ke universitas di seluruh dunia. Kelulusan ujian A jenjang adalah bukti kemampuan akademik untuk melanjutkan studi ke universitas yang mendapatkan kurikulum Cambridge. Sedikitnya dibutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mempersiapkan siswa supaya bisa memecahkan level A jenjang. Pada tahap ini siswa bebas memilih mata pembelajaran yang diminati sesuai kemampuan mereka.

Karakter kurikulum Cambridge adalah kontekstual dan mendalam, tidak banyak teori apalagi hitung-hitungan selain pada tingkatan pre-university yakni ‘AS’ dan ‘A’ Jenjang.

Level kedalaman konten materi, Cambridge ‘O’ Jenjang sama dengan Cambridge IGCSE. Level saja, Cambridge ‘O’ Jenjang diterapkan di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama, walaupun Cambridge IGCSE diterapkan di negara-negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama seperti Indonesia. Jadi, bahasa Inggris yang diterapkan pada IGCSE lebih mudah dibandingkan dengan ‘O’ Jenjang.

Baca Juga: Sekolah di BSD

Cambridge ‘IGSE’ jenjang atau ‘O’ jenjang diklaim sebagai salah satu kurikulum tertua di dunia. Juga diklaim sebagai provider ijasah terbesar di dunia dengan 9000 sekolah di 160 negara di dunia.

Kurikulum internasional yang ditawarkan Cambridge tetap memperhatikan aspek kelokalan Negara tempat sekolah berdiri, contohnya di Indonesia.

Salah satu keunggulan dari kurikulum ini adalah melatih siswa berpikir kritis, analisa, sampai termasuk kemampuan presentasi dan menuntaskan persoalan. Sehingga, diharapkan para siswa menjadi lebih percaya diri dalam berdiskusi di depan umum.
Siswa sungguh-sungguh didukung untuk menyampaikan anggapan dan berargumentasi dalam pembicaraan-pembicaraan seputar masalah-masalah sosial.

Materi-materinya sudah dipilih dengan tepat sehingga menarik dan dapat menambah pengetahuan siswa. Di saat pelajaran mendengarkan (listening), siswa diajak memperdengarkan presentasi mengenai kehidupan hewan tertentu atau seputar fenomena tsunami contohnya, atau seputar kerusakan mangrove.
Saat belajar membaca, siswa diajak merasakan keindahan alam di suatu Negara dengan keunikannya.

Pada bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam, siswa disediakan rumus-rumus dasar dan boleh menggunakan kalkulator, agar siswa lebih focus untuk belajar pemecahan masalah, logika, nalar, dan analisis.

Simak Juga: IB School Jakarta

Kurikulum Cambridge menolong siswa dalam pengembangan intelektual, kepribadian, emosionil, dan kesanggupan bersosialisasi.

Karena berasal dari negara barat, kurikulum ini mempunyai kecenderungan materialistis dan menjauhkan anak dari etika ketimuran. Walau demikian, kurikulum ini mengajari juga pembelajaran bahasa Arab dan pengajaran Al-Quran.

Kurikulum ini juga merupakan salah satu alternatif bagi home schooling, dimana ujiannya dapat dijalankan di Cambridge centers di tempat terdekat. Di Jakarta telah terdapat beberapa Cambridge centers, disana anak-anak home schooling dapat melakukan ujian untuk menerima sertifikat.

Cambridge Curriculum ini tidak layak bagi siswa yang berorientasi untuk masuk ke perguruan tinggi negeri.

Cek Juga: Sekolah Internasional di Jakarta

Bermacam Gaya Arsitektur Berani Gedung Teater Dunia

Generasi baru bangunan teater dengan gaya arsitektur yang penuh karakter dan unik mulai bermunculan, menggantikan konsep ‘kotak hitam’ yang netral dengan menggunakan acp.

Pada abad 20, timbul berjenis-jenis eksperimen radikal dalam desain teater.

Sutradara teater familiar seperti Tyrone Guthrie dan Zelda Fichlander mulai menolak gaya pentas yang seperti pigura gambar, dan malahan mengambil ide dari pentas format melingkar atau pentas yang terangkat ke atas dan mencuat dari bawah aula seperti zaman Yunani dan Romawi Kuno.

Pada 1970an, sutradara Peter Brook merubah peraturan soal teater dan mementaskan drama di desa-desa Afrika, tambang, dan teater tua yang kaya atmosfer, Thetre des Bouffes du Nord di Paris, di mana ia sempat mengambil alih selama sebagian dekade semenjak 1974 bersama produser Prancis, Micheline Rozan.

Kunjungi Juga Bagi Kalian Tertarik Dengan Makeup dan Skin Care Di : neuffa.com

Tetapi pada 1960an dan 1970an, timbul juga popularitas teater kotak hitam yang ultra-minimalis.

Warna hitam dibayangkan sebagai latar yang netral dan gampang disadur ke berjenis-jenis produksi yang berbeda.

Desain hitam yang kontras dan minimal dianggap sebagai petunjuk ketajaman intelektual, dan netralitasnya dianggap sebagai simbol bahwa teater sebagai sesuatu yang menarik secara universal.

Mungkin dikala itu, langkah untuk ‘menghitamkan’ teater dianggap avant-garde, tetapi sekarang banyak arsitek modern dan konsultan teater yang menganggap desain kotak hitam itu terlalu polos dan mengurangi skor.

Dan sebagai balasannya, sekarang timbul teater-teater baru dengan gaya yang unik, malahan maksimalis.

Banyak teater yang mencontoh gaya Brook, mengambil daerah di gedung-gedung tua yang penuh karakter, kata Gavin Green, salah satu pendiri konsultansi teater dan akustik Charcoalblue, yang sudah bekerjasama dengan arsitek di daerah-daerah seperti St Anns Warehouse dan The Ronald O Perelman Performing Arts Center in New York, Storyhouse di Chester dan Young Vic di London.

Yang terakhir, diperbarui pada 2004 bersama dengan Howarth Tompkins Architects, dianggap sebagai figur bagus bagaimana teater yang diperbarui dapat meningkatkan fleksibilitas (ada ruang penampilan ketiga yang ditambahkan di situ).

Baca Juga : Harga Besi Beton

“Ada respon melawan netralitas kotak hitam, yang aku lihat sebanding dengan galeri berbentuk kubus putih di dunia seni,” kata Jeff Day, pendiri utama perusahaan arsitektur AS, Min Day, yang merancang ulang Teater Bluebarn di Omaha, Nebraska.

“Dalam dunia teater, ada penurunan atensi kepada desain kotak hitam, sebab dianggap lazim oleh penonton dan membosankan, dan sutradara tidak lagi menikmati perlu ada netralitas yang murni. Salah satu karena lain, penolakan postmodern akan teater modern sebagai ruang absurd yang terpisah dari konteks sosial. Sebagai perancang, kami gigih oleh harapan untuk memberi atmosfer yang hangat dan mengundang.”

Lokasi daerah kesenian Storyhouse di Chester, Inggris, yang yakni perluasan dari bioskop 1930an yang direnovasi, dan dirancang oleh Bennetts Associates. (Getty Images)

Di Bluebarn, Min Day memberikan palet material yang berjenis-jenis: komponen depannya terbuat dari besi Cor-Ten yang akan berkarat sesudah terpapar unsur, sementara di komponen dalam, tembok dan lantainya terbuat dari kayu yang telah didaur ulang, langit-langitnya dari kobalt biru, dan daerah duduknya bahan velvet warna oranye tua.

Popularitas baru lainnya merupakan teater yang mengakui konteksnya.

Sebuah teater di Horris Hill Preparatory School di Berkshire, yang diwujudkan oleh Jonathan Tuckey Design dan rencananya akan selesai akhir tahun ini, mempunyai atap yang ditutup oleh semen terakota yang layak dengan bangunan bata di sektarnya.

Komponen dalamnya dihiasi dengan kayu yang dilaminasi dan pucat.

“Kami berkeinginan menjadi antitesis dari ruang kotak hitam yang polos” kata pendiri Jonathan Tuckey. Di komponen belakang aula ada amfiteater, dan taman di dekatnya dapat diterapkan untuk penampilan di luar ruang.

Kecuali itu ada perkembangan baru, kata Green, “teater di gedung-gedung tua atau yang khusus dibangun mempunyai atmosfer dan tekstur akan ruang yang ditemukan.”

St Ann’s Warehouse oleh Marvel Architects, seumpama, mengambil daerah di gudang tembakau dari 1860an yang direnovasi, yang memberi kesan industrial tetapi materi yang telah diterapkan dengan bagus seperti bata,besi, dan plywood.

Sementara itu, Yard Theater di London timur yang dapat menampung 100 orang bertempat di gudang yang tidak lagi diaplikasikan, dan auditoriumnya diwujudkan dari papan barier yang diterapkan ulang dan bangku dari resto yang tidak lagi beroperasi.

Sahabat yang fleksibel
Storyhouse, komponen dari skema regenerasi di Chester, menempati komponen perluasan di bioskop Odeon yang dibangun pada 1930an, yang tutup pada 2007.

Bangunan utamanya, yang direnovasi ulang oleh Bennetts Associates, sekarang menjadi perpustakaan baru dan bioskop. Karya Art Deco absah yang berani dan berwarna krem dapat tampak dari lorong merah yang mengaitkan teater dan bangunan di sebelahnya yaitu kencanapanelindo.com.

Komponen fasadnya berbentuk seperti tirai yang menetes dengan tiga lapis tuba tembaga format rumbai yang terinspirasi oleh anyaman Cina, komponen dari budaya setempat.

Oleh para arsiteknya, format ini disebut seperti ‘tudung’ dan tiap lapisannya bergerak secara mandiri, dan dapat memisah untuk menunjukkan pentas yang dapat ditonton oleh orang-orang yang melalui dan menyusun tembok yang seperti organ.

Teater Peckham di London, yang juga yakni sentra kesenian multifungsi di Balai Kota Southwark, merupakan bangunan baru dengan dengan fasad yang flamboyan dan ditutupi oleh keramik porselen yang bersinar.

“Ubin keramiknya merefleksikan sinar yang tergantung pada keadaan cuaca, dan mewujudkan permukaan yang menarik dan terus berubah” kata Jude Harris, direktur Jestico + Whiles, yang merancangnya.

Dan The Ronald O Perelman Performing Arts Center, yang dibangun oleh biro arsitektur REX di bekas lokasi World Trade Center, akan ditutupi oleh marmer transparan yang menyala pada malam hari dan akan hidup dengan siluet dari pengunjung dan para pemeran film pria.

Eksterior yang flamboyan dari banyak gedung teater menegaskan bahwa ini merupakan ruang pertunjukan. Dan seperti kata Harris, “rancangan Teater Peckham merupakan gedung tontonan publik, dan tampilan luarnya berkeinginan mencerminkan hal hal yang demikian.”

Silahkan Kunjungi Juga : solusibaja.co.id