Pilih Apartemen atau Rumah? Hunian Pertama Bagi Kaum Milenial

Sebagai generasi yang sedang menggantikan generasi sebelumnya, kaum milenial sering kali menjadi pembahasan. Generasi milenial sedang berada pada masa puncak produktivitas. Kemampuan memanfaatkan internet dan teknologi membuat perubahan besar dalam dunia kerja dan bisnis saat ini. Adanya generasi milenial ini mulai menggeser pendahulunya.

Lalu apakah selera kaum milenial dalam membeli rumah sama dengan pendahulunya yang menyukai rumah tapak dengan halaman yang luas?

Berdasarkan penelitian Harvard University tahun 2014, umur 25 hingga 34 tahun menunda membeli rumah dan memilih apartemen. Alasan utamanya adalah faktor finansial.

Baca Juga: Perumahan Sentul

Memang alasan finansial menjadi unsur penting bagi kaum milenial dalam memilih apartemen diantaranya:

Harga Apartemen Lebih Murah

Sebagai usia produktif di kisaran umur 30an tahun mungkin tidak semua orang mampu mengumpulkan uang miliaran rupiah dari hasil kerja atau bisnisnya.

Sedangkan harga rumah setiap tahun mengalami kenaikan 17% pertahun. Sebagai gambaran berdasarkan data rumah.com tahun 2018 harga rumah di wilayah sekitar MH Thamrin menempuh Rp 100jt/meter, di wilayah kuningan menempuh Rp 70jt/meter lalu di wilayah Gatot Subroto Rp 45jt/meter. Untuk menerima hunian seluas 50 meter dibutuhkan dana di atas 3 Miliar.

Berdasarkan rumah.com rata-rata harga apartemen di kota besar sekitar 1/10 dari harga rumah tapak. Jadi harga apartemen memang lebih relatif murah untuk kaum milenial.

Biaya Perawatan Rendah

Merawat apartemen jauh lebih mudah dan murah dibandingkan dengan biaya merawat rumah. Mempunyai apartemen anda hanya perlu memikirkan perawaran interior dan tentang area balkon. Jika rumah tapak anda juga perlu merawat eksterior, halaman sampai membersihkan selokan.

Simak Juga: Cluster Baru di Sentul City

Apartemen Aadalah Potensi Investasi yang Menguntungkan

Stigma membeli apartemen akan rugi karena hanya memiliki hak guna bangunan. Ditambah bangunan tersebut akan dirubuhkan dalam kurun waktu tertentu, tetapi sekarang ini telah berubah.

Apartemen menjadi pilihan logis untuk memiliki properti di kota besar. Jadi mempunyai apartemen bukan hal yang mustahil untuk kaum milenial. Anggap saja membeli apartemen adalah sebagai batu loncatan awal dalam memiliki properti tempat tinggal. Jadi sifatnya hanya sementara, sebelum nantinya membeli properti yang lebih bagus lagi.

Sesudah itu apartemen dapat anda jual atau disewakan dengan cukup cepat. Bukan hanya milenial saja yang berminat dengan apartemen, para orang tua juga mulai melirik membeli apartemen untuk invetasi.

Daripada menyewa kos-kosan untuk tempat tinggal anaknya di ketika kuliah, para orang tua lebih berminat membeli apartemen untuk digunakan sementara selama anak mereka kuliah. Sesudah lulus maka apartemen dapat disewakan ke mahasiswa lain.

Mahasiswa yang tinggal di apartemen semakin meningkat setiap tahunnya, bisa diamati dari banyaknya pengembang membangun apartemen yang sesuai untuk mahasiswa di sekitaran kampus. Berdasarkan pengamat properti David Cornelis lewat tribunnews.com, popularitas properti apartemen yang menyasar mahasiswa menengah ke atas tumbuh positif. Hal demikian juga ditunjang oleh banyak dan stabilnya jumlah mahasiswa di universitas ternama dan unggulan.

Cek Juga: Perumahan Sentul City

Selain unsur finansial, alasan kaum milenial memilih apartemen di antaranya:

Apartemen Hunian yang Praktis

Fasilitas pendukung yang ditawarkan pengembang apartemen memberikan poin lebih. Apartemen saat ini disertakan fasilitas restoran dan plaza, kolam renang, sarana olahraga, tempat parkir sampai ruang serbaguna. Jadi meskipun apartemen yang dimiliki tipe studio akan tetapi semua fasilitas yang diberi umumnya dapat dirasakan. Ruang lingkupnya bukan hanya di kamar saja.

Apartemen Semakin Bergengsi

Ketimbang kost atau kontrak rumah, mempunyai apartemen lebih bergengsi. Biaya bulanan untuk kos dan kontrakan tempat tinggal dialihkan menjadi biaya angsuran apartemen. Kaum milenial yang memiliki apartemen memberikan citra baik dari sisi finansial. Milenial yang telah mempunyai properti meskipun masih dengan cara angsuran akan tampak lebih terstruktur dan matang.

Apartemen Tidak Dibersihkan

Kaum milenial sedang menempuh masa-masa produktifnya saat ini. Kaum milenial cenderung workaholic dan individualis. Tinggal di apartemen cocok untuk milenial yang sedang konsentrasi meraih mimpinya.

Membersihkan apartemen tidak beda jauh dengan membersihkan kamar. Ruangan yang minimalis dan perabot yang tidak banyak cocok untuk milenial yang tidak ingin disibukkan dengan aktivitas bersih-bersih rumah.

Tidak Perlu Renovasi Besar

Kalau anda membeli rumah tapak, biasanya ada saja yang langsung anda renovasi atau tambahkan. Entah itu canopy, tata ruang, dapur, sumur air dan sebagainya. Biaya tersebut akan membebankan, apalagi rumah tersebut dibeli dengan angsuran yang setiap bulan harus dibayarkan.

Jika membeli apartemen, yang anda renovasi hanya seputar interior saja. Apabila perlu biaya besar, tinggal membeli perabot, furniture dan apartemen siap huni.

Cek Juga: Jual Rumah Sentul

Memancing kreativitas Interior

Dengan ruang yang minimalis, pemilik apartemen harus mempunyai kreativitas dalam mengembangkan ruangan yang ada. Design, warna dan pemakaian prabot dipilih se-selektif mungkin agar sesuai keperluan dan memberikan nilai seni dan fungsi yang maksimal.

Apabila ada ruang mati, di setiap sudut ruangan seharusnya dimanfaatkan untuk kesibukan sehari-hari.

Merubah design dan susunan perabot juga mudah dikerjakan secara langsung. Apabila perlu persiapan besar atau memanggil tukang angkut. Suasana ruangan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan dan suasana hati kaum milenial yang masih cenderung mudah berubah dan spontan.

KEKURANGAN TINGGAL DI APARTEMENT

Memang menyenangkan untuk milenial tinggal di apartemen. Hakekatnya lebih sepadan, kita bahas juga kekurangan tinggal di apartemen.

Interaksi dengan Tetangga Pasif dan Minim

Ini sering kali kita dengar, dan memang hal ini yang terjadi. Sebenarnya bukan tidak mau berinteraksi dengan tetangga, tapi memang ruang apartement tidak di design untuk mendapatkan tetamu yang masih asing atau belum terlalu kenal. Untuk ruang tipe studio misalkan, seandainya aku bertamu maka akan langsung dapat melihat ruang tidur.

Bentuk ruang apartemen yang dikelilingi tembok membuat kesan introvert, sehingga kita juga segan berkunjung ke ruangan tetangga untuk berkenalan.

Baca Juga: Perumahan di Sentul Bogor

Rawan Bencana Gempa dan Kebakaran

Bencana memang tidak dapat dihindari. Apalagi bencana gempa bumi dan kebakaran yang menghantui gedung-gedung tinggi termasuk apartemen. Berdasarkan wartakota.tribunnews.com sebanyak 506 atau lebih dari 55% gedung di Jakarta tidak memenuhi standart prasyarat keselamatan kebakaran.

Kepala Seksi Penindakan DPKP (Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan) DKI Jakarta mengucapkan setiap gedung seharusnya mempunyai Sertifikat Layak Fungsi yang didalamnya ada surat saran teknis keselamatan kebakaran yang dikeluarkan DPKP.

Gempa bumi juga menjadi ancaman yang menakutkan. Masih teringat dengan jelas di tahun 2017 dan 2018 Indonesia dilanda gempa bumi. Tentu saja guncangan gempa akan lebih terasa seandainya kita berada di dalam gedung tinggi.

Apapun pilihannya baik itu rumah maupun apartemen memang ada plus dan minusnya. Harus disesuaikan dengan keadaan dan keperluan anda.

Membeli sebuah hunian berupa rumah atau apartemen tidaklah murah. Harus ada perencanaan keuangan yang matang. Sebaiknya menabunglah memakai instrumen yang dapat mengembangkan uang anda seperti reksadana.

Kenali target keuangan yang ingin anda capai, ukur kemampuan anda setiap bulan untuk menabung reksadana. Kalau sasaran yang ditempuh memerlukan waktu lebih dari 5 tahun ada baiknya memakai instrumen reksadana campuran supaya nilainya berkembang sesuai rencana.

Kunjungi Juga: Perumahan di Sentul